Saturday, December 12, 2015

// // 15 komentar

Penyesalanku Untuk Fira

Bagikan:

Kemarin saya posting  tulisan saya  yang rencananya mau diikutkan dalam nulis bareng blogger energy.  Yang kemarin itu  yang sudah saya  edit.  Ada satu lagi tulisan yang lain  dan  yang ini tulisan asli tanpa saya edit.

Silahkan baca.

==============================================================
penyesalanku untuk fira
source: gosocio.co.id



“Ki, tolong stop Ki. Jangan gini.”

“Kenapa Fir? Apa salahnya? Aku cinta sama kamu Fir.”

Aku memeluk erat tubuh mungil Fira, aku rangkul dia hingga aku rasa tak ingin melepaskannya. Setan apa yang menguasaiku, hingga aku tak bisa mengendalikan diriku lagi.

“Fira.”

Aku menatap matanya, lalu bibir kami mulai bersentuhan. Sebuah ciuman biasa yang berlangsung cukup lama sampai aku mulai memainkan lidahku. Tak ada penolakan darinya, membuat tangan nakalku mulai aktif untuk mencari permainannya sendiri. Merangkak dan mengelus tubuh mungilnya, kemudian sampai ke salah satu wilayah yang paling menyenangkan menurut semua pria.

Aku bisa merasakannya perasaan basah dari bibirku juga perasaan hangat  dari dua gumpalan daging yang dirasakan oleh kedua tanganku. Aku tahu ini bukan hal yang baik. Bisa saja orang-orang melihat aku dan Fira yang seperti ini. Lalu mereka akan berteriak  dan mendobrak masuk pintu yang aku tahu tidak terkunci. Tapi perasaan menyenangkan ini jauh lebih kuat hingga mengaburkan pikiran warasku.

“Untuk apa lagi Fir berharap sama dia. Di sini ada aku yang cinta sama kamu.”

Untuk sesaat aku lepaskan ciumanku, berbicara untuk meyakinkan Fira tentang perasaanku. Dia hanya diam dengan pandangan mata yang seperti mengharapkan sesuatu dariku. Pikiranku ini busuk, melihat itu sebagai sebuah kesempatan. Tak puas hanya dengan wilayah atas dari tubuh Fira, tangan ini mulai menjalar ke bagian paling intim darinya.

Tak butuh waktu yang lama bagi tanganku untuk masuk ke paling sakral itu. Jari-jariku mulai berekrasi di wilayah tersebut sampai akhirnya menemukan tempat yang paling tepat. Penuh kehangatan dan sedikit lembab yang langsung membuat otakku berpikir, “aku tak akan melepaskanmu.”

Aku ingin membuka pertahanan yang menyembunyikan wilayah itu dariku. Namun dua buah tangan kecil menekan lalu mendorong tubuhku menjauh darinya.

“Maaf Ki, aku nggak bisa.”

Fira, dia menolakku.

“Aku nggak bisa Ki. Perasaanku jauh lebih besar ke dia. Apapun masalahnya, aku akan tetap cinta sama dia.”

Fira, dia berdiri. Mengambil semua barangnya yang ada di lantai. Tas, handphone, dia ambil lalu melangkah ke luar dari rumahku. Aku memanggilnya, memegang tangannya mencoba untuk membuat dia sedikit lebih lama di rumahku.

“Fira...  tunggu Fir. Fira.”

“Maaf Ki, aku harus pulang sekarang.”

“Sorry Fir,  aku nggak bermaksud buat-”

“Sudah Ki, sudah. Maaf tapi aku mau pulang.”

Seperti itulah, dia pergi. Tinggal aku yang entah menyesali perbuatanku atau malah menyesali dia pergi hingga membuat hal itu tak terjadi.

Namaku Rizki, aku tahu aku cowok busuk, brengsek dan punya pikiran kotor. Aku nggak akan mengelak soal itu apalagi setelah kalian membaca cerita di atas.

Dia Fira, seseorang yang aku kenal tanpa sengaja dari facebook. Walau dari facebook, tapi aku kenal dia sudah 2 tahunan lebih  dan sudah beberapa kali kami bertemu dan nonton bareng. Awalnya hubungan kami biasa hanya sebatas teman yang sering ketemu diakhir pekan. Tapi aku merasa nyaman padanya hingga muncul perasaan yang lebih kepada Fira. Aku nggak tahu tentang gimana perasaan dia kepadaku. Tapi sejak kami cukup sering ketemu, aku langsung menargetkan dia  sebagai calon pacar. Artinya dia gebetan yang sedang kuincar agar bisa menjalin kasih.

Tapi hal itu nggak gampang, setelah cukup lama kami saling kenal. Dia mulai terbuka kepadaku. Dia mulai bercerita tentang masalahnya kerjaan, keluarga sampai tentang  pacarnya.  Iya, aku baru tahu dia sudah punya pacar saat dia cerita masalah yang dia hadapi.

“Jadi gimana nih, Ki.  Ada solusi nggak ya buat aku sama dia.”

“Entahlah Fir, aku juga nggak tahu.”

Saat itu dia sedang bercerita masalah dia dan pacarnya, aku merasa sakit setelah tahu tentang hal itu. Aku cemburu dan ingin rasanya membuat mereka putus. Tapi itu nggak gampang, karena aku tahu Fira sudah cinta mati sama pacarnya. Meski dia sedang ada masalah, Fira tetap nggak mau putus sama pacarnya itu. Padahal masalah yang dia hadapi itu bukan masalah kecil.

“Kenapa nggak diputusin aja sih Fir? Dia nggak baik buat kamu.”

“Aku tahu Ki. Tapi mau gimana lagi, aku cinta sama dia.”

“Cinta Fir? Tapi kamu juga harusnya mikir, kalian berdua itu nggak seharusnya jalin hubungan. Kalian itu harusnya putus aja,  masih banyak cowok  yang baik untuk kamu Fir.”

Masalah Fira itu cukup mudah diselesaikan kalau saja Fira mau putus dan nggak berusaha bertahan sama pacarnya.  Tapi sayang dia tetap nggak mau mendengar ucapanku. Fira lebih memilih untuk tetap bertahan walau hatinya itu sakit.

Fira, dia menjalin hubungan asmara dengan seorang pria yang sudah beristri. Dia tahu akan hal itu, bahkan sejak awal mereka berhubungan. Tapi cinta sudah membutakan, Fira tetap menjalani hubungan itu seperti tak ada  masalah.

Setiap aku dan Fira bertemu, terkadang kami membahas masalah yang dia hadapi. Entah sudah berapa kali aku meminta dia untuk putus.

“Fira, lebih baik kau sudahi aja hubungan dengan cowok itu.  Dia Cuma mau mainin kamu aja.”

“Nggak Ki, aku tahu dia serius sama aku.”

“Buktinya mana? Dia itu udah nikah Fir, dia itu punya istri. Kamu harusnya sadar.”

“Tapi dia bilang dia mau cerai, Ki.”

“Dia bilang akan segera nikahin aku setelah dia cerai dari istrinya. Dia itu nggak bahagia sama istrinya, Ki.  Makanya dia memilih aku, aku juga udah netapin hati aku buat dia.”

Aku ingat saat itu Fira sedikit membentakku, mungkin kesal dengan ucapanku yang selalu meminta dia putus.

“Fir, kamu sebelumnya ceritakan sama aku istrinya dia lagi hamil sekarang.”

“Iya, istrinya hamil. Tapi dia bilang dia akan tetap cerai sama istrinya, Ki.”

“Yang bener aja Fir. Istrinya hamil, dia nggak bisa cerai sama istrinya. Lagipula itu berarti dia bahagia sama hubungan dia dengan istrinya itu.”

“Nggak Ki. Dia bilang dia akan tetap cerai. Setelah bayinya lahir baru dia akan cerai.”

“Jadi kamu mau nunggu Fir”

“Iya, Ki. Aku mau nunggu.”

“Mau berapa lama, Fir? Setahun, dua tahun, atau kamu mau nunggu dia selamanya.  Mikir Fira, kau itu cantik. Banyak cowok yang pastinya cinta sama kamu.”

Aku sama Fira itu udah terasa sangat dekat,  jadi mungkin karena itulah dia sering curhat soal masalahnya. Aku juga kadang sering curhat ke dia soal masalahku. Bisa dibilang hubungan kami itu terasa nyaman walau bukan sepasang kekasih. Aku selalu punya waktu untuk mendengar curhatannya. Aku nggak pernah ngungkapin perasaan aku ke dia. Karena aku tahu jika aku ngungkapin perasaan aku, hubungan kami pasti akan terasa beda.

Setelah Fira bercerita soal istri pacarnya yang sekarang hamil, Fira mulai sulit untuk aku hubungi.  Baik pesanku di FB maupun sms tak pernah dia balas. Aku tahu, dia sudah mulai menjauh. Mungkin karena nasihat yang selalu aku berikan agar mereka putus. Padahal itu sebuah saran yang baik untunya, tapi dia nggak pernah mau mendengarkan.

Hubungan kami mulai renggang dengan sendirinya. Walau masih ketemuan tapi itu cukup jarang dan Fira pun tidak pernah lagi membahas masalahnya itu. Dia seperti mengalihkan masalah itu ke hal lain meski aku menanyakan soal itu.

Lama masalah itu berlarut-larut  dan tak kami bahas lagi sampai akhirnya Fira tiba-tiba datang ke rumahku. Tanpa mengabari lewat sms ataupun telpon, Fira sudah ada di depan rumahku. Aku lihat matanya sedikit merah, entah apa yang terjadi aku langsung minta dia untuk masuk ke rumah.

Dia lalu menangis di dalam rumah.

“Kamu kenapa nangis gitu, Fir?”

“Dia, Ki. Cowok aku itu bilang dia nggak jadi untuk cerai.”

Aku terdiam, aku sudah merasa ini pasti terjadi sejak pertama Fira cerita tentang pacarnya yang sudah menikah itu. Aku yakin saat ini Fira nangis karena sudah putus dengan pacarnya itu. Atau bisa jadi karena pacarnya itu ingin mengakhiri semua hubungan yang sudah mereka jalani. Namun ternyata aku salah.

“Dia tetap mau jalin hubungan sama aku, Ki. Aku bilang nggak mau, aku nggak mau Cuma sebatas itu. Aku minta dia untuk cerai supaya kami bisa nikah.”

“Jadi dia nggak mau ngelepasin kamu ataupun istrinya.”

“Iya, Ki. Aku bingung sekarang. Aku harus gimana, aku cinta banget sama dia  tapi nggak mungkin gini terus.”

Fira saat itu menangis, cukup sedih untuk melihatnya  seperti itu. Tapi apa dayaku, aku nggak bisa ngomong dan nasehatin dia. Aku hanya bisa nunggu sampai Fira merasa tenang.

Cukup lama, sampai Fira akhirnya berhenti untuk menangis dan mulai bisa untuk diajak mengobrol seperti biasa. Dan disitulah aku mengambil kesempatan untuk mengubah pikiran Fira tentang cowok itu.  Mengambil kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.

“Fira, sebenernya aku cinta sama kamu. Tapi aku nggak pernah ngungkapinnya selama ini.”

Orang bilang saat cewek sedang sedih itu adalah kesempatan bagus untuk mengambil hatinnya. Hati yang rapuh oleh pacarnya bisa cukup mudah untuk didapatkan.  Aku tahu itu, dan mulai mengungkapkan isi hatiku ke dia.

“Daripada kamu terus-terusan sakit sama dia. Kenapa nggak nyoba untuk ngerasa bahagia sama aku, Fir.”

Aku tahu aku pasti bisa mendapatkan hatinya. Aku sangat yakin soal itu. Tapi setan sudah menguasi hatiku terlebih dahulu. Aku nggak perlu menjelaskan lagi apa yang terjadi selanjutnya karena bisa di baca di awal cerita. Ya, aku terbius untuk memiliki Fira bukan hanya cinta dan hatinya. Aku mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan semuanya dari dia.

Setelah kejadian adegan mesra antara aku dan Fira, dia benar-benar menghilang. Aku nggak bisa lagi menghubunginya, SMS atau telpon hanya percuma.  Facebooknya sendiri juga entah kenapa menghilang. 

Aku tahu ini salahku sendiri, dan aku mulai merasa bersalah.

Bila diingat, sudah satu tahun lebih sejak kejadian di rumahku itu. Fira menghilang, semua karena kelakuan bejatku. Aku harusnya bisa menahan diriku, tapi memang otakku ini sudah teracuni oleh hal kotor.

Fira, andainya kami bisa bertemu lagi atau suatu saat nanti dia datang kepadaku untuk sebuah saran dan curhatan. Hal pertama yang akan kulakukan adalah meminta maaf untuk kesalahan waktu itu. Karena kejadian itu adalah penyesalanku sampai saat ini, jadi aku akan senang jika Fira memaafkanku.

-END-

15 comments:

  1. eh, ceritanya kok hampir mirip dengan masa lalu sy...hehe...jadi berkaca2 sy...salam kenal dan izin follow blognya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mas

      wah mirip masa lalunya nih

      Delete
  2. Dih apaan cowok busuk, aku wangi tau..

    Coba kalau Rizki gak terlalu memperlihatkan kalau dia suka banget sampai nafsu buat cium Fira, dia bisa mendapatkan si Fira.

    Bapernya dapet sih, cuma aku setuju kalau perlu diedit cuma sayang ya gak sempet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, makanya nggak sempet kemarin. emang butuh banyak perbaikan

      Delete
  3. semoga bisa bertemu fira kembali :')
    kira2 ini ada lanjutannya gak ya..

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. separuh fiksi . iya konfliknya emang nggak begitu wah sih soalnya

      Delete
  5. Wuaaahh, mantap kali nih kak ara fiksinya dibuka dgn adegan panas. Hahaa. Tumben banget. Abs biasanya yg ada dipikiranku soal kak ara itu kalo gak tentang jejepangan, ya berbau horror gitu. Dan ini sgat brbda dri apa yg aku byangkan sblumnya. Tp okee bangeett laahh ini deskripsinya! Kerenn! Jujur aja, aku emg penikmat novel/cerpen yg dewasa2 gini. Wakakaak.

    Ngmong2, Rizki itu bukannya orgnya pendiem, trs polos gtu yak? Kok tau2 dia berubah jd kyak bgini sih? Wah, parah banget dah emang si Rizki. Dia diem2 ternyataa..... Hmm... Wahahaa *maap, salah fokus*
    SI Fira jg, pdhal udh jelas2 mendingan sm si Rizki aja ya, masih menjomblo. Drpda hrs ngerebut suami orang gitu. Ah, namanya jg cerita lah. Kok jd saya yg repot? Hahaa.

    Ini tulisannya tdnya pgn diikutsertain buat nulis bareng BE jg apa enggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha... saya ini cukup lumayan kalau bikin cerita dewasa. cuma ya itu. hati saya tertuju pada hubungan yang tak normal ketimbang yg gini.

      iya pengen diikutkan juga kemarin tapi batal

      Delete
  6. Waduuy bangt deh cerita pembukanya ya, bikin berkhayal yang engga engga aja

    Tp menurut gue konflik ceritanya terlalu ringan euy, dan gak ada klimaksnya gitu. Itu sih menurut gue hehe

    btw kasian Fira, ampir kehormatannya direnggut hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha berkhayal apa ni

      iya emang konfliknya ringn kok

      Delete

Pengunjung yang baik selalu berkomentar yang baik dan relevan.
Terimakasih.

Back to top